Test midle sidebar

Home » » KONSEP ILMU (Ilmu dan Dilalah);Ilmu Mantiq (review)

KONSEP ILMU (Ilmu dan Dilalah);Ilmu Mantiq (review)


Ilmu dan Dilalah
Nur Mukhlish Zakariya
KONSEP ILMU
      Ilmu sering disebut science  dan dibedakan dengan pengetahuan.
      Ilmu merupakan pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu
      Menurut Prof. KH. M Taib Thahir Abd. Mu’in, ilmu adalah mengenal sesuatu yang belum dikenal.
      Menurut Muhammad Nur Al-Ibrahim mengemukakan pengertian ilmu menurut ahli mantik sb : Pencapaian objek yang belum diketahui dengan cara meyakini atau menduga keadaannya bisa sesuai dengan realita atau sebaliknya.
      Ilmu pengetahuan merupakan cara untuk menghasilkan dan menguji kebenaran pernyataan mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di dunia pengalaman manusia.
      Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari aktifitas mengetahui, yakni tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa hingga tidak ada keraguan terhadapnya.
      “Ketidakraguan” merupakan syarat mutlak bagi jiwa unt dpt dikatakan “mengetahui”. Contoh : Bilangan 3, lebih kecil dari 5 dan lebih banyak dari 1.
      Pengetahuan (knowledge) sudah puas dengan “menangkap tanpa ragu” kenyataan sst, sedang ilmu (science) mengehendaki penjelasan lebh lanjut dari sekedar apa yang dituntut pengetahuan (knowledge). Contoh : Ban pelampung yg terapung di air
Cara untuk menghasilkan dan menguji kebenaran pernyataan empiris
      Otoriter, pencapai pengetahuan yang berbobot (ketua adat, uskup, raja, dll).
      Mistik, sebagian dihubungkan dengan cara otoriter seperti para wali, pelantara, dewa-dewa, dll. Otoriter lebih berorientasi bagaimana sosial sedangkan mistik bersumber dari bribadi pemakai.
      Logika Rasional, sejalan dengan pemikiran sosial.
      Cara Ilmiah, menggabungkan suatu kepercayaan terhadap akibat yang diamati.
      Ilmu menurut para pakar Mantiq, adalah mengerti dengan yakin atau mendekati yakin (zhan) mengenai sesuatu yang belum diketahui, baik paham itu sesuai dengan realita maupun tidak
Contoh: Ketika sinar cahaya bulan yg samar”, kebetulan melihat bayang” hitam setinggi manusia.
         Pemahaman bahwa bayang” itu adlah bayangan manusia dan anda yakin akan paham anda itu. Kebetulan, ternyata bahwa bayang” itu adalah benar bayangan manusia. Pemahaman anda itu merupakan lmu yg yakin dan sesuai dg realitas (ilmu yaqini muthabiq lil-waqi’)
         Jika anda mempunyai pengertian yang mendekati yakin (zhan) bahwa bayang” itu adlah bayangan manusia. Kebetulan, ternyata bahwa bayang-bayang itu adalah benar bayangan manusia, maka pengertian anda itu merupakan ilmu yg mendekati yakin (zhan) dan sesuai dg realitas (ilmun zhanni muthabiq lil-waqi’).
Pembagian Ilmu Menurut Pakar Mantiq
1.Tashawwur, yaitu memahami sst tanpa meletakkan sesuatu (sifat) yg lain kpdnya, seperti memahami kata Husein, manusia, kerbau, rumah, gunung dsb. Tashawwur juga bisa diartikan dengan mengetahui hakikat-hakikat objek tunggal dengan tidak menyertakan penetapan kpdanya atau meniadakan penetapan drinya
2.Tasdhiq, yaitu memahami hubungan antara dua kata, atau menempatkan sesuatu (kata) atas sesuatu (kata) yang lain.
            Ketika memahami Husein tanpa menetapkan sesuatu yang lain kepadanya maka ilmu anda mengenai Husein itu Tashawwur. Tetapi, ketika anda mengatakan Husein sakit, berarti anda memahaminya dengan menetapkan (meletakkan) sakit kepada Husein. Pemahaman anda pada waktu itu sudah berpindah dari Tashawwur kepada Tashdiq.
Pembagian Ilmu Tashawwur dan Tashdiq
1.   Badihi
Pemahaman tentang sst yg tidak memerlukan pikiran atau penalaran (sst yg unt mencapainya tanpa memerlukan susah payah), seperti mengetahui diri merasa lapar karena terlambat makan; mangetahui diri merasa dingin karena tidak memakai jaket, mengetahui satu adlh setengah dari dua, dan semacamnya.
2.    Nazhari
Pemahaman (Ilmu) yg memerlukan pemikiran, penalaran atau pembahasan (diperoleh pemahaman dg susah payah), seperti bumi berputar, tapi air di atasnya tdk tumpah, teknologi radio, televisi, komputer dll. Demikian juga halnya dengan ilmu pengetahuan tentang alam sebagai sst yg baharu yg harus ada penciptanya, termasuk ilmu pngetahuan tentang alam kubur dan kebangkitan di hari akhirat.
LANDASAN DAN TOLOK UKUR KLASSIFIKASI ILMU
      Para filosof mengklassifikasikan ilmu seperti halnya klassifikasi filsafat yaitu: ilmu” teoritis dan ilmu” praktis. Al-Farabi dlm ihsa al-ulum telah melakukan klassifikasi ilmu sbb :
      Ilmu ketuhanan yg terdiri dari 3  : yg membahas semua wujud dan yg terkait dgnya, yg membahas tentang prinsip” argumentasi (seperti ilmu mantik dan matematika), yg membahas semua wujud yg tidak berupa benda” ataupun berada dlm benda”.
      Ilmu” praktis seperti ilmu politik yg meneliti berbagai bentuk tindakan dan cara hidup, ilmu fiqih yaitu ilmu yang membahas tentang penyimpulan syariat dan pelaksanaanya, ilmu kalam yang menkaji tentang dasar” agama dlm hal teoritis maupun praktisnya (Al-Farabi, Perincian Ilmu Pengetahuan, dalam Nurcholish Madjid. Ed. Khazanah Intelektual Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h.121-133.
 Ibnu Khaldun membagi ilmu scr umum menjadi dua bagian yaitu :
      Ilmu-ilmu naqli (al-ulum al-naqliyah). ilmu-ilmu naqli diantaranya ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ushul fiqh, fiqih, ilmu kalam, ilmu-ilmu bahasa (linguistic, gramatika, retorika, sastra).
      Ilmu-ilmu aqli (al-ulum al-aqliyah). Ilmu-ilmu aqli adalah ilmu hikmah dan filsafat, yang terdiri dari tujuh yaitu : ilmu mantik (logika), ilmu alam, ilmu ketuhanan (metafisika), matematika (arimatika, geometri, astronomi, dan musik). (Ibnu Khaldun,Tentang Ilmu Pengetahuan dan Berbagai Jenisnya, dalam Nurcholish Madjid (ed.) Khazanah Intelektual Islam. (Jakarta: BB, 1984), h. 310-326.
Klassifikasi Ilmu berdasarkan konsepsi
1.   Tashawwur (konsepsi) yaitu ilmu yg bebas dari penilaian benar-salah. Tashawwur itu sendiri dibagi 4 bagian :
        Konsepsi yang tidak memiliki relasi dan bersifat independen, seperti konsepsi tentang manusia, hewan, dll.
        Konsepsi yang memiliki diferensia (fashl), seperti : hewan rasional.
        Konsep yang memiliki relasi perintah, seperti: pukullah, pergilah.
        Konsepsi yang memiliki relasi berita, seperti : Zaid berdiri.
2.   Tashdiqi adalah ilmu yang didasarkan pada penilaian benar-salah. Contohnya : Ahmad adalah anak pintar.
Pembagian Ilmu Tashawwur dan Tashdiq
1.   Dharuri (keharusan) atau badihi. Dharuri/badihi yaitu ilmu yang didapat tanpa proses berpikir dan mengkonsepsi, melainkan langsung hadir pada mental. Selanjutnya, ilmu dharuri terdiri dari enam bagian :
        al-Awwaliah (permulaan) yaitu aksioma yang diperoleh akal dengan selintas pikiran saja tanpa bentuan sesuatu yang eksternal darinya, seperti : satu lebih kecil dari dua, ayah lebih tua dari anaknya.
        al-Musyahadah batiniah (penyaksian batin) yaitu aksioma yang didapat tanpa penilaian akal, melainkan dapat dirasakan batin. Contohnya: lapar, haus, sedih, takut.
        al-Mahsusat (empirisme) yaitu aksioma yang didapat berdasarkan penilaian akal dengan bantuan indera. Contohnya: api itu panas; madu itu manis.
        al-Tajribiah (eksperimental) yaitu aksioma yg didapat karena telah dieksperimen melalui percobaan dan pengalaman. Contohnya: air menguap jika dipanaskan, bodrek dapat menyenbuhkan sakit kepala.
        al-Hadsiah (dugaan; speculation) yaitu aksioma yg didpt berdasarkan perkiraan-perkiraan yg cermat, seperti : cahaya rembulan berasal dari cahaya matahari; bumi ini bulat.
        al-Fitriah (fitrah) yaitu aksioma yg didapat melalui kehadiran proposisinya dlm mental. Artinya, proposisi yg deduksinya terikut bersamanya atau yg had ausath (middle term) selalu hadir di dalam benak. Hal ini merupakan sejenis proposisi ‘spontan’ yg penelarannya terjadi secara sangat cepat dan setengah sadar. Contohnya: dua setengah dari empat.[4]
        Selain enam hal di atas ada juga yg menambahkan mutawatirah yakni sesuatu yg diyakini karena adanya berita yg berulang-ulang dan laporan yg banyak. Contoh: di Mekah ada Ka’bah; Nabi Muhammad itu ada.
2.   Iktisabi (proses) atau nazhari (teoritis) adalah ilmu yang didapat melalui proses berpikir, seperti : rotasi bumi mengelilingi matahari. Iktisabi ini terbagi pada dua bagian, yaitu :
        al-tashawwur al-kasbi (konsepsi proses) yaitu konsepsi yang didasarkan pada dua unsur utama yaitu had (batasan substansial) dan rasm (batasan aksidental).
        al-Tashdiq al-kasbi yaitu penilaian terhadap konsepsi yang didasarkan pada qiyas (silogisme), intiqra (induktif), dan tamsil (analogi).
Klassifikasi ilmu berdasarkan eksistensi
§      Ilmu hudhuri (kehadiran) yaitu ilmu yang objeknya langsung hadir pada diri subjek. Pada ilmu hudhuri ini tidak ada keterpisahan antara subjek dan objek ilmu pengetahuan, melainkan terjadi kesatuan eksistensial antara keduanya.
§      Ilmu hushuli (korespondensi) yaitu ilmu yang didapat melalui proses korespondensi yang terjadi antara subjek dengan objek eksternal yang mana yang hadir adalah gambaran objeknya tersebut, bukan objeknya langsung.(Khalid al-Walid, Tasawuf Mulla Sadra. (Bandung: Muthahhari Press, tt), h. 105-109.
Klassifikasi berdasarkan metode dan prosedur penelitian
§      Ilmu-ilmu rasional yang diselidiki lewat bukti-bukti rasional dalam penyimpulan mental seperti logika dan filsafat ketuhanan.
§      Ilmu-ilmu empiris yang diverifikasi lewat metode-metode empiris dan eksperimentasi seperti fisika, kimia, dan biologi
§      Ilmu-ilmu nukilan (narrative science) yang ditilik lewat dokumentasi naratif atau historis seperti sejarah, biografi, dan fiqih.
DILALAH
PENGERTIAN DILALAH
§      Dilalah adalah memahami sst dari sst yg lain. Sesuatu yg pertama disebut al-madhul (yg ditunjuk, diterangkan atau diberi dalil) dan sesuatu yg kedua disebut al-dall (penunjuk, penerag, atau yg memberi dalil).
§      Dilalah, yaitu satu pemahaman yg dihasilkan dari sst atau hal yg lain. Contoh : Terdengar suara di dalam danau di tengah ladang adlh dilalah (indikator) bagi adanya orang di dalam danau itu.
PEMBAGIAN DILALAH
1.      Dilalah Lafzhiyyah adalah petunjuk berupa kata atau suara. Dilalah ini terbagi tiga bagian yaitu :
      Thabi’iyyah (dilalah lafzhiyyah thabi’iyyah) yaitu dilalah (petunjuk) yg berbentuk alami (‘aradh thabi’i). Contoh : 1. Ketawa terbahak-bahak menjadi dilalah bagi gembira. 2. Menangis terisk-isak menjadi dilalah ............. 3. Suara mengerang dilalah.............
      Aqliyah (dilalah lafzhiyah aqliyah) yaitu dilalah yg berbentuk akal- pikir. Contoh : 1. Suara teriakan ditengah hutan menjadi dilalah bagi adanya manusia di sana. 2. Suara teriakan maling dari sebuah rumah menjadi dilalah ................
      Wadh’iyyah (dilalah lafzhiyah wadh’iyyah) yaitu dilalah yg dengan sengaja dibuat manusia untuk suatu isyarah atau tanda apa saja berdasar kesepakatan.
            Contoh lafadz (kata) kepada makna yg tlh disepakati :
Orang Sunda sepakat menetapkan kata cau menjadi dilalah bagi pisang
Orang Jawa sepakat kata gedang menjadi dilalah bagi pisang
Orang Inggris sepakat kata Benana menjadi dilalah bagi pisang
2. Dilalah Ghairu Lafzhiyyah  adalah dilalah yang tidak berbentuk kata atau suara. Dilalah ini terbagi tiga bagian:
      Thabi’iyyah (dilalah ghairu lafzhiyyah thabi’iyyah) yaitu dilalah (petunjuk) yang bukan kata atau suara yang bersifat alami. Contoh : 1. Wajah cerah menjadi dilalah bagi orang yang senang ; 2. Menutup hidung menjadi dilalah ........3. wajah merah menjadi dilalah........
       ‘Aqliyah (dilalah ghairu lafzhiyah ‘aqliyah) yaitu dilalah bukan kata atau suara yang berbentuk akal- pikir. Contoh : 1. Hilangnya barang-barang di rumah menjadi dilalah bagi adanya orang yang mencuri ; 2. Terjadinya kebakaran di hutan menjadi dilalah ..........
      Wadh’iyyah (dilalah ghairu lafzhiyah wadh’iyyah) yaitu dilalah bukan kata atau suara yg dengan sengaja dibuat manusia untuk suatu isyarah atau tanda apa saja berdasar kesepakatan. Conth : petunjuk bagi lafadz (kata) kpd makna yg telah disepakati : 1. Secarik kain hitam yg dipakai orang Cina di tangan kirinya menjadi dilalah bagi kesedihan. 2. Merahnya lampu perempatan  .............
Pembagian Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah
1.      Muthabaqiyyah (dilalah lafzhiyah wadhiyyah muthabaqiyyah) yaitu dilalah lafazh (petunjuk kata) kepeda makna selengkapnya. Contoh : Kata rumah memberi dilalah bangunan yg lengkap terdiri dari, dinding , jendela, pintu, atap dll. Jika kita menyuruh membuat rumah, adlh rumah yg lengkap, bukan hanya satu bgn saja (dinding atau atapnya) saja.
2.      Tadhammuniyyah (dilalah lafzhiyyah wadh’iyyah tadhammuniyah) yaitu dilalah lafazh (petunjuk kata) kepada bagian” maknanya.Contoh : Ketika kita bermaksud untuk memperbaiki rumah, maka hanya bagian” tertentu saja yg diperbaiki. Jika kita meminta dokter mengobati badan, maka bagian badan yg sakit saja yang diobati.
3.      Iltizamiyyah (dilalah lafzhiyyah wadh’yyah iltizamiyya), yaitu dilalah lafazh kpd sst yg ada di luar makna lafazh yg disebutkan, tetapi terikat amat erat dg makna yg dikandungnya. Contoh : Jika kita menyuruh tukang memperbaiki asbes atap rumah yg runtuh, maka yg dimaksud bukan hanya asbes saja, tetapi kayu-kayu asbes yg melekat dan kebetulan sudah patah pun harus diganti. Asbes dengan kayu yang menjadi tulangnya terkait amat erat (iltizam)
PENGERTIAN BERFIKIR
            Pada hakikatnya manusia adalah makhluk berfikir, bernalar, beremosi, bersikap, dan beramal. Sikap dan pengalaman manusia berasal dari pengetahuannya melalui aktivitas berpikir. Berpikir merupakan tanggapan atas realitas atau fakta yg dialami manusia melalui panca inderanya. Aktivitas berfikir manusia berguna untuk menghasilkan pengetahuan yg benar, ilmiah, dan tepat sebagai landasan penemuan kebenaran.
PENGERTIAN BERFIKIR
§      Berfikir adalah kegiatan akal untuk “mengolah” pengetahuan yg telah kita terima melalui indra, dan ditunjukkan unt mencapai kebenaran.
§      Menurut Plato dan Aristoteles, berfikir adalah “bicara dengan dirinya sendiri didalam batin” yaitu mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, membuktikan sesuatu, menunukkan alasan”, menarik kesimpulan, meneliti suatu jaln pikiran, mencari berbagai hal yang berhubungan satu dengan yg lain, mengapa atau untuk apa sesuatu terjadi, serta membahas suatu realitas. ( Poespoprodjo&Gilarso, 1999:13)
§      Berpikir adalah suatu proses mental dalam membuat reaksi, baik terhadap benda, tempat, orang, maupun peristiwa. ( Burhanuddin Salam, 1997:141 )
§      Berfikir adalah aksi ( act ) yang menyebabkan fikiran mendapatkan pengertian baru dg perantaraan hal yg sudah diketahui. Yg beraksi disini bukan hanya budi atau akal,namun seluruh manusia (The Whole Man ) yaitu dorongan” yg ada pd manusia yg sering kali mempengaruhi jalan fikiran manusia atau isi fikiran. ( Poespoprodjo, 1999:178 )
§      Menurut M. Ngalim, MP, berfikir adalah suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan.
§      Menurut Psikologi Gestalt, berfikir adalah keaktifan psikis yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indra.
§      Berfikir merupakan pembentukan ide, pembentukan semua pengalaman dan penyusunan maklumat dalam bentuk tertentu.
§      Berfikir adalah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubungan-hubungan antara pengetahuan-pengetahuan kita. Berfikir merupakan suatu proses dialektis, artinya selam kita berfikir, fikiran kita mengadakan tanya jawab pikiran kita. Untuk dapat meletakkan hubungan-hubungan antara pengetahuan kita dengan tepat.( no.4-8 Evi Yuni Imaroh,www.google.co.id )
Proses Berfikir
1.      Pembentukan pengertian. Artinya dari suatu masalah,fikiran kita membuang ciri” tambahan, sehingga tinggal ciri-ciri yang tipis (yg tidak boleh tidak ada ) pada masalah itu. Misalnya, aku menangkap apa arti 'aku','mobil','membeli' dsb. Mengerti kenyataan (misalnya aku menangkap apa itu mobil ) dan membentuk pengertian” atas dasar pengetahuan keindraan dg melihat fisik mobil dll.
2.      Pembentukan pendapat dan keputusan. Artinya fikiran kita menggabungkan atau menceraikan beberapa pengertian, yg menjadi tanda khas dari masalah itu. Menyatakan hubungan yg ada antara pengertian” yg telah ditangkap itu, dengan mengatakan bahwa masalah itu 'demikian‘ (S=P) atau memisahkan / memungkiri dg mengatakan 'ini tidaklah demikian' (S#P). Misalnya, mobil itu mahal, mobil itu tidak murah. Pernyataan ini disebut putusan, dan biasanya dlm bentuk kalimat berita.
3.      Pembentukan kesimpulan. Artinya fikiran kita menarik keputusan dari keputusan-keputusan yg lain. Menghubungkan berbgai hal yg diketahui sedemikian rupa sehingga kita sampai pd kesimpulan. Jalan fikiran seperti ini tidak perlu diucapkan dg kata-kata, namun dipikirkan dalam batin. Tetapi dalam berfikir itu, kita mesti mempergunakan kata-kata ( pengertian-pengertian atau konsep ). dan apabila ingin disampaikan dg orang lain (komunikasi), isi pikiran itu harus dikatakan atau dilahirkan dlm kata” (bahasa), istilah (term) atau yang lain.
Aspek-aspek Proses Berfikir
         Pengetahuan (apa yang anda tahu tentang objek itu )
         Kemahiran kognitif (menyoal diri sendiri tentang objek itu)
         Sikap dan nilai (keinginan untuk mengetahui objek itu )
Komponen Berfikir Manusia
         Adanya fakta (waqi')
         Adanya panca indera (hawas)
         Adanya otak (ad-dimagh)
         Adanya pemahaman (ma'lumat as sabiqah)
Tingkatan Proses Berfikir
         Suthi (dangkal), adalah proses berfikir yg hanya melihat fakta saja.
         'Amiq (mendalam), adalah proses berfikir yang mendalami secara detail tentang fakta yg sedang terjadi.
         Mustaniir (mendalam), adalah proses berfikir yg bisa membahas sesuatu yg terjadi di balik fakta.
Asas-Asas Berfikir
            Asas berfikir adalah pengetahuan dari mana pengetahuan yang lain tergantung dan dimengerti. Juga bisa dikatakan pengetahuan yang menunjukkan mengapa pada umumnya kita dapat menarik kesimpulan.Asas-asas berfikir dibagi menjadi dua :
            1. Asas-asas primer
         Asas identitas (principium identitatis = qanun zatiyah) atau law of identity, yaitu kaidah berfikir yg menyatakan bahwa sesuatu hanya sama dengan sesuatu itu sendiri. Jika sesuatu itu p maka p itu identik dengan p atau p adalah p. Dapat dikatakan ,”jika p maka p dan tetap p”.A
         Asas kontradiksi (principium contradictionis = qanun tanaqud) atau law of contradiction, yaitu kaidah berfikir yang menyatakan bahwa tidak mungkin sesuatu pada waktu yang sama adalah “sesuatu itu dan bukan sesuatu itu”. Artinya mustahil ada sesuatu hal yang bersamaan saling bertentangan. Sir William Hamilton menyebutnya “hukum tanpa pertentangan”. Tidak mungkin p dalam waktu yang bersamaan adalah p dan bukan p.
         Asas penyisihan kemungkinan yng ketiga (principium exclusi tertii = qanun imtina') atau law of excluded middle, yaitu kaidah yg menjelaskan bahwa kemungkinan yg ketiga itu tidak ada. Apabila terdapat dua proposisi yg kontradiksionis yg satu merobohkan yg lain, pastilah salah satu diantaranya itu salah.
         Asas alasan yg mencukupi (principium rationis sufficientis) atau law of sufficient reason
Menyatakan bahwa jika perubahan terjadi pada sst, maka perubahan itu perubahan itu haruslah memiliki alasan yg cukup. Jadi tidak ada perubahan yang terjadi begitu saja tanpa alasan yg memadai sebagai penyebab perubahan itu.
  1. Asas-asas sekunder
           
            Dari sudut isinya
         Asas kesesuaian (principium convenientiae), menyatakan bahwa ada dua hal yang sama, hal yang lain itu sama dengan hal yang ketiga. Contohnya, jika S=M dan M=P maka S=P (dengan catatan bahwa S dan P disini dihubungkan satu sama lain dengan satu M )
         Asas ketidaksesuaian (principium inconvenientiae), menyatakan bahwa ada dua hal yg sama tetapi salah satu diantaranya tidak sama dg hal yg ketiga. Dengan demikian hal yg lain itu juga tidak sama dg yg ketiga tadi. Contohnya, jika A=B tetapi B#C maka A#C
            Dari sudut luasnya
         Asas dikatakan tentang semua (principium dictum de omni). Apa yg secara universal diterapakan pd seluruh lingkungan suatu pengertian (subyek) juga tidak boleh diterapkan pada bawahannya.
         Asas tidak dikatakan tentang manapun juga (principium dictum de nullo). Apa yang secara universal tidak dapat diterapkan pada suatu pengertian (subyek) juga tidak dapat diterapkan pada semua bawahannya.
Syarat Berfikir Benar dan Ilmiah
  1. Pemikiran harus berpangkal dari kenyataan atau titik pangkalnya hrs benar. Suatu pemikiran, meskipun jalan pikirannya “logis”, bila tidak berpangkal dari kenyataan yg benar, tentu tidak akan menghasilkan kesimpulan yg benar. Conth : Kalau hujan lebat, memang bisa benar bahwa saya tidak akan masuk kuliah. Ini memang hubungan yg logis, tapi jk dlm kenyataan tidak terjadi hujan lebat, maka saya tidak akan masuk kuliah, jelas tidak disebabkan oleh hujan lebat. Kalau titik pangkal suatu pemikiran tidak pasti, maka kesimpulan yg ditarik juga tidak akan pasti, bahkan salah.
  2. Alasan-alasan yg diajukan harus tepat dan kuat. Sering kali, ssorang mengajukan pernyataan tidak didukung oleh alasan”, bahkan merasa yakin dlm menarik kesimpulan, padahal ia tidak memiliki cukup alasan atau alasannya tidak kuat serta tidak membuktikan apa”. Memang ada bbrp hal yg dpt dibuktikan dgn menunjukkan fakata. Tapi banyak hal yg hanya dpt dibuktikan dgn pemikiran secara logis, sehingga perlunya dimasukannya alasan.
  1. Jalan pikiran harus logis atau lurus. Jalan pikiran itu mengenai pertalian atau hubungan antara titik pangkal atau alasan / premis dan kesimpulan yang ditarik darinya. Jika hubungan tersebut tepat dan logis maka kesimpulannya disebut “sah”(valid). Contoh : Kesimpulan salah, jalan pikirannya logis,titik pangkalnya salah. Semua orang berambut gondrong itu penjahat.Nah para penjahat harus dihukum, Jadi semua orang yang berambut bergondrong harus dihukum. (Poespoprodjo & Gilarso, 1999:20)

0 komentar:

Posting Komentar

Health